Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Tuesday, December 19, 2006

Ideal...

Ide, suatu hal dalam benak tentang kondisi.
Ideal, kesesuaian antara harapan dan kenyataan. Sepertinya memang hanyalah sebuah ide, tidak pernah menjadi kenyataan.Ideal...nihil
Dari sejumlah kelahiran, ada yang tiba dalam keadaan cacat. Dari keteraturan alam, ada bencana. Dari sejumlah kebahagiaan, akan tiba masa sedih.
Tapi mengapa kita mengejar kesempurnaan, saat kesempurnaan itu hanya dalam benak. Tidak ada yang salah, hanya saja kadang kita lupa. Saat itulah kita mencoba menjadi Tuhan.
Seperti Hitler, saat mencoba melenyapkan kaum Yahudi yang ia anggap 'cacat'.
Seperti Israel, saat mencoba menyingkirkan bangsa Palestina karena mereka dianggap tidak layak untuk hidup di tanah yang dijanjikan. Aku sempurna, ujar Tuhan.
Peradaban memang kadang melupakan ketidaksempurnaan. Seperti ujar seorang dokter dalam sebuah drama, "Tuhan mungkin tidak adil, namun bukankah ia akan selalu memunculkan keajaiban-keajaiban?"........

Monday, September 04, 2006

ziarah

Ashok: "Adakah nasib yang lebih baik dari raja ?"
Pendeta: "Peziarah, yang berhasil menyelesaikan perjalanannya".
-ashoka-

Sepertinya pergi dan pulang adalah hal yang sama. Tentang mencari, tentang perjalanan. Hal yang tampak linear namun sebenarnya berputar. seperti bumi, terbentang lurus saat menjejak tapi bulat dari sudut angkasa.
Hidup, seperti awal kemudian akhir. Namun sebenarnya akhir adalah awal. Hidup yang berpeluh namun akhirnya mati, kemudian hidup. Seperti seorang tua, setelah merasa semuanya sudah berhasil ditemukan, apalagi yang dicari: setelah itu pulang. ingin menikmati masa seperti saat dibuaian sang ibu...pulang.
Adakah sia-sia?...tentu saja ada tafsir disana. Ada penilaian: materi dan rohani. Tapi yang lebih penting adalah proses...hal yang sangat manusia. Meski akhir akan akan kembali ke awal, seakan-akan nol. Namun menafikkan proses seperti menghilangkan kehidupan itu sendiri,...manusia.
Sehingga pergi dan pulang adalah perjalanan itu sendiri, proses. Hal yang sepertinya belum dan tidak akan berhenti. Seperti bumi, seperti tidak berujung. Ia berputar kita mengitar.
Tafsir yang paling baik sepertinya adalah berziarah. Ia bepergian, mencari tempat untuk pulang, baik tubuh maupun jiwanya. Adakah selesai...mungkin, setelah bumi berhenti berputar, dan kita tetirah. Saat titik awal dan akhir kita temukan dan diperlihatkan-NYA...saatnya ziarah.
Bandung 1 September 06

Tuesday, August 29, 2006

salah

salah. peristiwa yang lahir dari alpa, lupa, khilaf. suatu yang manusia. namun ada tingkat yang bisa dipahami berbeda. terutama yang berbuat salah dan pihak yang dirugikan oleh kesalahan tersebut.

membaca kesalahan adalah membaca manusia itu sendiri. sebuah hal yang membuat hidup tidak linear, yang membuat hal putih dan suci menjadi sedikit bernoda, yang membuat lubang-lubang maupun unggukan di jalan kehidupan...sesuatu yang memang tidak pernah mulus.

meski di depan akan selalu ada peluang untuk salah, tapi usaha memperbaiki kesalahan tidak pernah habis. karena ada harap bahwa jalan akan lebih mudah ke depan jika pijakan adalah benar....

banyak kesal dan marah dari salah. tapi di depan akan selalu ada maaf...meski tidak selalu cepat, tapi waktu sepertinya akan sabar menunggu...

*setelah hari ini terlalu banyak berbuat salah.

Monday, July 24, 2006

jalan itu

berjalan di keramaian selalu membutuhkan pengertian, penawaran. mungkin sedikit mengurangi timbangan yang baik dan memperberat keburukan. mungkin karena lahan yang bersimbolkan kesucian hanya sepetak. dunia yang abu-abu, intrik dan persaingan memang yang paling ramai . ataukah memang rakus atau memang itu fitrah. tipisnya batas manusia dan hewan manakala insting dan akal bergumul, mungkin saling mencakar dikala lain saling berpelukan, mesra.
ataukah pengertian dunia yang sebenarnya fitrah, kini terjerat nista, akar kejahatan. proses itu memang mencari, pergulatan definisi. tafsir yang silih berganti.
Rasul yang mulia memberitahukan, ambillah yang tengah. kembali kepada kitab-Nya dan perkataannya. jika kebingungan, tanyakan hati nurani. tentang penawaran makna, bersihkan saja dengan sedekah, zakat. mungkin dalam keramaian, ada banyak kesulitan tentang praktik. tapi agama memang tidak memberi jawaban mengeja. mungkin sebuah solusi dalam kerumitan, solusi mencari. membutuhkan kepercayaan, pemikiran dan kerja. selesai itu kecacatan ini bukan lagi urusan kita.

Tuesday, July 04, 2006

kapitalism

mesin-mesin dihidupkan. jeritan dan nyanyian dimatikan. hening berderap ambisi. menghisap nilai menjarah makna. semua definisi adalah produksi. ruang kosong adalah haram. semua penuh bahkan meluber. tapi tidak untuk yang kalah. yang berlebih tidak mengalir kepada yang kurang.
tapi mungkin begitulah pola bercinta. seni yang rumit. sekedar mencari, meski pencarian tak kunjung usai. karena jika berhenti berarti kiamat. sekedar menegaskan kecacatan. karena adil dan merata adalah surga.
mungkin yang kita butuhkan adalah penegasan kerja, keringat. mungkin tanpa arti menyerah kita berlomba mencari sudut-sudut kosong. untuk kita menepi, kembangkan imaji. sekedar berbaring. bersandar pada kerapuhan. disini, kita berdua, bercinta.

Friday, June 30, 2006

logika Tuhan

God will understand, if not, then He ain't ...(Ballian, Son of Godfrey)

seorang teman berbicara meracau, jika Tuhan MahaBenar maka ia bisa MahaSalah...

Sebuah cahaya adalah zat, terang adalah sifatnya. jika Ia hadir maka terang adalah ada dan gelap itulah tiada.
gelap adalah fana. terang meniadakan gelap, begitu pula benar meniadakan salah.
ALLAH "tidak memiliki" lawan sifat. Ia tunggal. hanya ciptaanNya yang mendua sifat. demi sebuah keseimbangan. kebaikan-kejahatan, malikat-iblis, nyata-fana, dunia-akhirat... jika kita menurunkan logika dari sifatNya maka tiada lain tiada bukan segala yang buruk adalah fana karena Ia nyata. maka dari sifat-sifatNya adalah jalan menuju tunggal. cinta pada kebaikan dan benci pada kejahatan.

:bingung untuk tidak bimbang

Wednesday, June 21, 2006

ramifikasi

benang kusut. rangkaian sebab akibat. aku, kamu, mereka. kehadiranku, kehadiranmu, kehadiran semesta. kehidupan pelik. masalah timbul tenggelam, silang sengkarut. ketika kita mencoba menyelesaikan persoalan, kadang bagai menarik benang kusut, bermaksud mengurai namun ikatan semrawut semakin kencang.
mungkin benang kusut itu hanyalah sebuah kekhawatiran. ia ada namun bukanlah persoalan sebenarnya. terlalu banyak, terlalu ke jauh ke depan. terlalu banyak energi yang harus dikuras, melelahkan.
yang perlu dipikirkan mungkin hanyalah persoalan di hadapan. menarik benang perlahan. cukup percaya, bahwa meski musykil, semua akan beres, setidaknya menuju kesana. karena masalah akan selalu ada. karena dunia tidak sempurna, cacat. tapi selalu seimbang. ada yang keluar ada yang masuk.

Wednesday, April 26, 2006

Hitam


Setelah bersama kemudian sendiri. Setelah hidup kemudian mati. Berjalan menyusuri kelam. Berjalan tanpa arah karena cahaya sebagai panduan masih menghilang. Di setiap gelap tidak ada cerita karena hanya satu warna, hitam. Kalaupun ada membosankan memang. Bayangkan saja ketika semua lembaran berwarna hitam. Tidak ada warna lain mampu tergurat, sia-sia saja ketika satu persatu hadir mengisi. Memaksa bangunkan jiwa yang telah mati.

Satu hal, sebuah ego yang teramat besar. Sebuah kesalahan diri yang merasa kesalahan adalah milik orang lain dan Tuhan. Sebuah kekecewaan dan penerimaan ketidakadilan. Kemarahan atas takdir. Sedikit penyesalan mungkin.

Mungkin saja hitam itu setelah begitu banyak warna mencoret-coret lembaran kehidupan. Bertumpuknya warna ternyata tidak selalu membawa keindahan. Ketika komposisi warna tanpa aturan maka hasilnya kotor dan muram. Ketika tidak ada kesadaran untuk mengganti lembaran. Ketika masih merasa suci ternyata warna-warna telah menumpuk, lapang ternyata telah penuh di setiap ruang.

Sebuah pandangan yang meniadakan kebaikan. Pemikiran tentang halalnya keharaman. Satu persatu pigmen putih berganti pigmen warna-warna dari kuning, hijau, biru, merah, coklat kemudian hitam. Ketika dulu cahaya itu datang dan sifat zat sifat diri memantulkan apa yang dalam hati dan jiwa kemudian tercermin dalam perilaku sebagaimana apa yang dilihat sebagai warna. Dan ketika cahaya itu menghilang, dan lembaran mulai menghitam maka lengkaplah sudah kekelaman.

Lembaran hitam, tidak ada hal yang bisa dibaca. Mungkin dalam gelap kita telah berjalan menuju kalimat terakhir. Mungkin saja berputar-putar dan berkubang dalam lembah nista. Sepertinya tidak ada jalan lain kecuali berarti mati setelah itu hidup.

Friday, April 07, 2006

sosokmu

sebuah sosok. tentang kesempurnaan. fisiknya manusia dan hatinya lebih mulia dari malaikat. satu manifestasi cinta-Nya. tentang keseimbangan. tentang materi dan rohani. tentang rasionalitas dan spiritualitas. satu cinta yang melingkupi makhluk-Nya. tentang nihilnya kebencian.
tentang kerinduan. kala kafilah-kafilah mulai terpisah. dan umat terpecah belah. diseberang musuh tak kenal lelah menggerayangi umatmu untuk menyerah. tentang kesadaran yang hilang akan kebenaran yang nyata bagi setiap insan. tentang kerinduan agar seluruh umat disatukan. agar setiap tetesan tangis menjadi dalamnya lautan. kini kerinduanku padamu ya nabi, semakin menjadi-jadi.

rabiulawal, dalam kerinduan

Thursday, March 23, 2006

dunia ini panggung sandiwara

segalanya akan lebih berarti apabila dihayati -dian sastro-

tentang jalan lain ke sana...kita mempunyai jalan hidup masing-masing, begitu kata kebijaksanaan lama atau bagian lain dari iman kepada takdir. jalan yang kita tempuh begitu banyak cabang, hingga gang yang berbelok-belok, rumit.
di setiap jalan ada cerita masing-masing, hingga latar yang minor maupun mayor, berwarna mulai dari hitam-putih.
tapi peran yang kita mainkan mungkin sudah ditentukan, meski ada seleksi terlebih dahulu sekedar bukti keharusan sebuah usaha, karena jalan-jalan telah disediakan.
mungkin kita merasa sebagai sang tokoh utama, cerita berawal dan berakhir tentang kita sendiri. namun di balik itu ada sang sutradara. sebagai pengatur bagaimana dan kemana cerita mengalir.
kadang kita bisa menjadi penonton, terhanyut menikmati kisah-kisah sedih dan suka. yang kemudian tersentak bahwa ini hanyalah sebuah sandiwara ketika pergelaran telah selesai.
namun ada kemerdekaan yang aneh di sana. kita sebagai tokoh utama sekaligus penonton dapat memilih sendiri kepingan film, frame-frame kehidupan. ketika cerita berjalan ada sebuah ketidakberdayaan, ada beberapa tumpuk hapalan naskah yang menjadi alur. ketika laku tidak sesuai naskah, ada sesuatu yang salah yang harus dikoreksi, kadang dengan beberapa teguran sang sutradara.
sekali lagi...sebuah cerita, bagian kecil dari kumpulan cerita. ada kekuasaan sang pengarang, sang sutradara, sang penulis naskah, namun dalam kebebasan berimajinasi kitalah sang pembaca memilih hikmah, bagaimana kisah sang tokoh akan bermakna, kita hayati atau...cerita sambil lalu, tidak menarik, kita lewati halaman demi halaman dengan cepat, seperti ringkasan atau seperti membaca koran pada jam sibuk.

hei...kamu, mau kemana?

Tuesday, February 28, 2006

menunggu godot jatuh cinta...

semenjak hari lalu aku terpaku terpukau pertunjukkan seni asmara. kamu hanya datang, duduk dan diam...dan aku merana. sepertinya kamu adalah peringatan, alarm merah-merah muda merekah. kemudian setelah waktu beranjak tanpa permisi menyentak luar sadar ...kamu telah tersenyum pada cinta-Nya dan memulai hidup baru bersama jiwa salah satu pencintaNya. aku tersenyum, getir. tiada jejak cukup ucapan terimakasih karena telah menjelma-Nya.

kini tiga tahun lebih semenjak hari lalu. hijabmu masih kau sibakkan kedalam pandanganku, membayangi pencarian-pencarian dalam diam. kini getir masih memukau karena yang lain hanyalah pantulanmu. seperti cinta yang tidak buta namun palsu. aku meragu.

kamu memberikanku sketsa cinta yang tidak bisa kuhapus. aku jatuh cinta...dan pergimu membawa semuanya. aku jatuh cinta, lagi untuk kesekian kalinya dengan jiwa dan rupa lainmu.
membuat kepastian palsu...ternyata belum bisa jatuh cinta....lagi.

Thursday, December 29, 2005

waktu lain

ruang dan waktu. fisik dan abstrak. manusia membutuhkan realitas sebagai pegangan.
pada awalnya adalah penafsiran. objek (baik itu fisik ataupun abstrak) kita serap dengan panca indera. kemudian kita tarik kesimpulan. kesimpulan yang bernama subjektifitas.
realitas yang sebenarnya virtual.
yang paling vulgar adalah waktu. ia lebih abstrak dari udara yang kita hirup. ia lahir dari sebuah kira-kira. dalam kenangan kita bisa mengenalinya: ia tidak terasa namun mengingatkan bahwa ia ada dan nyata.
sebagaimana kenangan yang diwujdkan dalam kenang-kenangan, manusiapun mencoba memfisikkan waktu. memahat monumen waktu yang bernama penanggalan. detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun. hanyalah penanda dari realitas.
sebuah kesepakatan sosial. namun manusia alamiahnya mempunyai perbedaan penafsiran. subjektifitas. tahun saka, tahun masehi, tahun hijriah. sehingga pada dasarnya waktu yang kita kenal saat ini hanyalah belum tentu sesuai dengan realitas. tanggal satu hanyalah salah satu titik sudut dari sebuah lingkaran. bumi mengelilingi matahari. bulan mengelilingi bumi. tanggal satu tidak bermakna apa-apa. tidak ada peristiwa dalam tanggal satu.
tanggal satu dijadikan peristiwa. maka manusia lupa ketika histeria hiruk-pikuk massa memuja penanda pseudo...
mungkin sebagai perekat dan pengisi ruang kosong antara penanda dan realitas, kita isi dengan makna-hikmah.
jadi intinamah mending keneh sare tibatan kulantang-kulinting teu puguh..iraha deui sare di "tahun baru". selamat malam mingguan...

Tuesday, December 27, 2005

hidup

pada awalnya adalah indera... yang membuka pintu hati...
dengan membawa rasa kepada akal yang menyimpulkan makna-makna...
dari ketermenungannya lahirlah rindu..yang ketika dewasa menjadi cinta ketika berkawan dengan kata-kata...sebuah evolusi inspirasi purba........
1 syawal 1424-jalan tol jagorawi