Thursday, December 29, 2005

waktu lain

ruang dan waktu. fisik dan abstrak. manusia membutuhkan realitas sebagai pegangan.
pada awalnya adalah penafsiran. objek (baik itu fisik ataupun abstrak) kita serap dengan panca indera. kemudian kita tarik kesimpulan. kesimpulan yang bernama subjektifitas.
realitas yang sebenarnya virtual.
yang paling vulgar adalah waktu. ia lebih abstrak dari udara yang kita hirup. ia lahir dari sebuah kira-kira. dalam kenangan kita bisa mengenalinya: ia tidak terasa namun mengingatkan bahwa ia ada dan nyata.
sebagaimana kenangan yang diwujdkan dalam kenang-kenangan, manusiapun mencoba memfisikkan waktu. memahat monumen waktu yang bernama penanggalan. detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun. hanyalah penanda dari realitas.
sebuah kesepakatan sosial. namun manusia alamiahnya mempunyai perbedaan penafsiran. subjektifitas. tahun saka, tahun masehi, tahun hijriah. sehingga pada dasarnya waktu yang kita kenal saat ini hanyalah belum tentu sesuai dengan realitas. tanggal satu hanyalah salah satu titik sudut dari sebuah lingkaran. bumi mengelilingi matahari. bulan mengelilingi bumi. tanggal satu tidak bermakna apa-apa. tidak ada peristiwa dalam tanggal satu.
tanggal satu dijadikan peristiwa. maka manusia lupa ketika histeria hiruk-pikuk massa memuja penanda pseudo...
mungkin sebagai perekat dan pengisi ruang kosong antara penanda dan realitas, kita isi dengan makna-hikmah.
jadi intinamah mending keneh sare tibatan kulantang-kulinting teu puguh..iraha deui sare di "tahun baru". selamat malam mingguan...