Tuesday, December 14, 2010

awam

I'll keep drinkin' this Wine
'Cause my heart just can't say when
'Til I'm like a vagabond
And I've got nothing left to defend
With eyes full of tears
And a heart full of fire
This Wine that I have found is so rare
It brings joy without end
-Dust on the road, Debu-

"Apakah gunanya agama?" Ayah saya berkomentar saat melihat kali di belakang pekarangan rumah almarhum kakek semakin mengecil karena penduduk membangun rumah di sepanjang pinggiran kali. "Apa mereka tidak sadar jika bencana banjir hanya menunggu waktu saja?" Beliau melanjutkan, untuk apa ibadah yang mereka praktikkan selama ini jika tidak membangun kesadaran untuk menjaga alam dan lingkungan. dan lamat-lamat argumen ayah saya seperti menyalahkan pemisahan antara agama dan dunia. seperti anti sekuler, meski yang saya alami kehidupan beliau sangat sekuler.

dan saya pun teringat dengan nyamannya kehidupan di Belanda, sebuah negara yang sangat tidak perduli dengan status agama. kehidupan yang tertib, bersih, tidak ada pembangunan yang sembarangan di lahan hijau, jadwal transportasi yang akurat hingga kita bisa menebak perkiraan perjalanan dalam akurasi menit.

dan saya pun teringat ide-ide besar teologi ketika kuliah di bandung, tentang pergulatan para cendekiawan islam yang banyak bersuara setelah menempuh pendidikan di luar negeri. mulai dari ide negara agama hingga liberalisasi agama, memang ada variasi dari kedua ekstrim, namun keduanya lahir dari ibu yang sama, modernitas dan rasionalisme.
satu kubu menyatakan peradaban islam runtuh karena ajarannya ditinggalkan sementara peradaban barat maju karena meninggalkan ajaran agamanya. namun sekian lama yang saya sadari, persoalan memang tidak sesederhana itu.... protestan bisa mengklaim kemajuan barat dengan protestan ethicnya... dan tentu saja, Indonesia bukan semata-mata milik agama Islam.
di kubu lain menilai jika peradaban barat sekarang adalah peradaban islam yang sesungguhnya.. jadi menolehlah ke barat. namun sekian lama yang saya sadari, persoalan memang tidak sesederhana itu... pendiktean iklim kebebasan oleh negara barat memang berhasil di sebagian negara asia, tapi tidak di afrika. dan belum ada yang bisa menjawab itu secara final. generalisasi memang kadang alpa dengan detail.

entahlah, yang pasti perdebatan dan penyusunan logika akan sangat panjang, dan bisa jadi sudah klise dan membosankan. sepertinya pertanyaan Ayah saya memang hanya ditunjukkan untuk pribadi saya sendiri saja. untuk apa agama? saya sendiri bukan seorang gagah yang berkegiatan sosial untuk kemajuan komunitas, saya hanya seorang individualis yang masih kebingungan apakah gaji sudah layak membayar zakat dan kadang terasa berat membayar qurban, saya pun masih selalu gelisah jika berada di pengajian dimana argumen-argumen sang ustadz kadang tidak logis dan sulit saya terima. dan memang saya pun masih tidak bisa menjawab apa gunanya agama untuk saya...

Jakarta 9 Muharam 1432

1 comment:

Serendipity said...

jadi teringat apa itu agama menurut Gus Mus : Bahwa agama adalah kereta yang disediakan Tuhan, untuk kendaraan manusia, berangkat menuju ke hadiratNya.