Wednesday, September 14, 2011

institusi

Institutions are the humanly devised constraints that structure human interaction. They are made up of formal constraints (rules, laws, constitutions), informal constraints (norms of behavior, conventions, and self imposed codes of conduct), and their enforcement characteristics. Together they define the incentive structure of societies and specifically economies. (Nobel Prize Lecture, Douglass C. North)

dalam satu generalisasi, kita bisa bertanya mengapa sistem maupun perilaku manusia di negara maju relatif lebih beradab ketimbang negara-negara berkembang ataupun miskin. mulai dari sistem peradilan hingga budaya antri misalnya.

satu pendapat dari acemoglu adalah perbedaan dari siapa penjajah mereka dan bagaimana mereka menjajah. tapi pertanyaannya lagi adalah, mengapa para penjajah bisa berbeda memperlakukan wilayah jajahannya. jawaban acemoglu adalah malaria. wilayah dengan tingkat malaria tinggi membuat penjajah tidak nyaman membangun peradaban di sana, mereka lebih memilih eksploitasi sumber daya alam dan kemudian pergi. itulah yang membedakan jajahan inggris di asia dengan jajahan belgia di afrika. ataupun koloni penuh di amerika utara dan australia, dan tidak di malaysia ataupun india.

hipothesis ini mungkin terasa mental superioritas kulit putih. namun dominasi mereka ratusan tahun ke belakang hingga saat ini tentu saja adalah suatu realitas. dan itulah yang menjadi warna peradaban dunia saat ini.

dan di papua, sayapun kembali teringat hal ini. ketika permintaan referendum kembali memanas. mengapa papua jauh tertinggal ketimbang wilayah bekas jajahan belanda lainnya di nusantara. ketika belanda membangun kota dan sistem pemerintahan yang mapan terutama di jawa dan sumatera sementara di papua, belanda hanyalah menjadi rampok di malam hari. tentu saja alasannya adalah malaria.

dan di papua, sayapun melihat kesenjangan institusi yang begitu besar. meski saya tidak suka dengan konsep asli dan bukan asli, tapi pedagang berdarah papua di pasar hanyalah berdagang hasil yang dipetik dari alam tanpa memiliki bangunan permanen untuk berdagang, sementara para pendatang memiliki kemampuan mengolah dan meramu dengan deretan toko-toko besar.

dan di papua, sayapun melihat orde baru melestarikan gaya belanda. mengalirkan hasil sumber daya alam ke jakarta sementara penduduk sekitar menjadi penonton saja. entah ataukah merasa kesulitan membangun untuk melompat jauh dari bangsa berburu menjadi bangsa industri. sementara di jawa, memulai dari bangsa bercocok tanam saja masih kesulitan dengan pembangunannya sendiri.

seorang petugas pengawas bandara keturunan jawa yang menyewakan mobilnya menjadi taksi saat jam kerja, bercerita jika di jawa, dulu belanda masih mau mengajarkan banyak hal, sementara di papua, belanda setiap pagi memberikan susu dan roti kepada penduduk setelah mengambil hasil alam mereka.

dan di papua tuntutan merdeka masih sering terdengar. sayapun teringat mental belanda ketika indonesia merdeka.. ketika merasa bagaimana mungkin bangsa yang mayoritas buta huruf, tidak beradab, bisa mengatur diri mereka sendiri... entahlah, dan kabarnya, di jakarta para pejabat asli papua itu sering menghabiskan waktu ketimbang di kantornya nun jauh di sana.

jayapura, merauke, agustus 2011

1 comment:

Serendipity said...

Menanggapi beberapa perilaku para pejabat, ataupun "sistem" yang masih berpusat dan mengutamakan kepentingan "Jakarta"(seorang teman bilang bahwa pemerintahan masih menganut "Jawasentris") mungkin sedikit relevan dengan apa yang disebut oleh Yudi Latif sebagai perilaku mengejar kesenangan tanpa nurani, --yang menjadikannya sebagai bagian dari kesalahan sosial--. Hmmm, entahlah...


*Membaca tulisan di atas, membuat saya teringat film dokumenter Moeder Dao*