Tuesday, April 19, 2011

surat terakhir

sunyi tak memiliki nama
tapi ia membuka seluruh pintu untuk setiap nama
yang mengetuknya
–bait-bait yang gugur dari kitab lupa, toni lesmana-

kepada kekasih,

dalam waktu yang kusia-siakan itu, ketika aku melihatmu di seberang, terpisah sebuah aliran deras, aku mencoba berhitung kapan riak ini mereda. namun rupanya, akal sehat dan rasa kadang tidak seirama. akupun memilih bergantung pada tali-tali rapuh di tepian atau berpijak pada batu-batu licin di permukaan. aku sempat meraihmu kala itu, namun ketidak sabaran memang berbuah ketidakhati-hatian… ketidakabadian. aku terhanyut dan terengah-engah rasa sesal.

dalam waktu yang kusia-siakan itu, aku mencarimu di semak belukar, diantara sekawanan rumput liar. aku mencoba menerka sebanyak apa duri yang menghadang. namun rupanya,perkiraan selalu berkawan dengan kesalahan perhitungan. akupun memilih bergantung pada tangan telanjang atau berpijak pada jalan setapak. aku sempat memetikmu kala itu, namun ketidaksabaran memang berbuah ketidakhati-hatian… ketidakabadian. aku terluka dan tersayat-sayat rasa sesal.

sebagaimana semua ciptaanNya, kebenaran sekaligus kesalahan sepertinya adalah hal yang tidak pernah selesai. dalam waktu yang kusia-siakan itu pencarianku yang kupikir jelas dan tidak terbantahkan, ternyata semu dan kosong. aku memilih bergantung pada asumsi-asumsi yang rupanya tidak abadi. bertambahnya pengetahuan dan keyakinan justru berkawan dengan bertambahnya pertanyaan dan keraguan.

namun dapat saja aku berhenti dan menyerah, dan puas dengan menimbun asumsi-asumsi dan melupakan pertanyaan-pertanyaan. namun aku adalah seorang pencari, akan terus kurasakan hangatnya hela nafasmu.

karena kemungkinan selalu ada, bisa saja aku akan mengulangi kesalahan yang sama meski akupun tidak yakin jika ada kondisi yang tepat sama dalam waktu yang berbeda. namun, aku adalah seorang pencari, akan terus kuikuti setiap bayangmu.

karena kesalahan adalah keniscayaan, aku berharap bisa memperkecil pengulangan kesalahan meskipun aku tidak yakin ada waktu yang cukup untuk mendekati kebenaran. namun aku adalah seorang pencari, akan terus kuingat irama detak jantungmu.

kepada kekasih,
inilah perasaanku. egois dan naif. dan akupun lancang bertanya… aku tidak memintamu untuk mencariku, tapi setidaknya maukah kau menungguku? aku adalah seorang pencari, akan terus kudengar sayup-sayup tawa dan tangismu. aku akan terus mencarimu….dengan penuh cinta

Jakarta, 15 jumadil awal 1432

1 comment:

Serendipity said...

"aku akan terus mencarimu….dengan penuh cinta"

sebuah kalimat penutup yang..hmmm... indah.